Senin, 05 Oktober 2009

Suami-Istri Terinfeksi HIV

* Pernah merantau di Malaysia tahun 1994
Senin, 5 Oktober 2009 | 11:55 WITA

LEWOLEBA, PK -- Sepasang suami istri asal Desa Hoelea, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, positif terinfeksi virus HIV. Tanda-tanda fisik masuk stadium satu menjadi stadium dua, sedangkan tiga anaknya belum diperiksa darahnya. Tiga anak yang dilahirkannya berkemungkinan terjangkit virus mematikan ini.

Konselor profesional HIV/AIDS RSUD Lewoleba, dr. Bernard Yosep, kepada Pos Kupang, Sabtu (3/10/2009), melukiskan penyakit yang menyerang kekebalan tubuh penderita itu ibarat gunung es yang mulai mencair.

Selama bulan September, katanya, ditemukan 17 kasus HIV/AIDS. Temuan 17 kasus sebulan sangat mengerikan dan kemungkinan masih banak lagi warga yang menderita penyakit serupa.

"Riyawat penderita yang dominan adalah perantau doyan seks bebas. Mereka yang kembali beberapa tahun silam dalam keadaan sehat baru ketahuan saat ini. Jumlah itu belum termasuk setiap dua pekan sekali, perantau yang pulang ke Lewoleba dengan kapal penumpang Pelni. Mereka kembali membawa harapan, tapi juga masalah. Ada yang kondisinya sangat kritis menunggu ajal dan ada yang menunggu bertahun-tahun," kata Bernard.

Pasangan suami istri ini, demikian Bernard, pada tahun 1994 merantau ke Malaysia, ditemukan dalam pemeriksaan di RSUD Lewoleba, 24 September 2009. Sang suami pada masa mudanya suka "jajan" seks dengan pekerja seks komersial, menikahi istrinya pada tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, mereka kembali ke Lewoleba. Kemungkinan sang suami tertular dari wanita PSK, dan kemudian menularkan lagi virus ini kepada istrinya.

Mereka dikaruniai tiga anak. Yang sulung telah remaja dan kini duduk di bangku SMP, anak kedua di sekolah dasar dan paling kecil belum sekolah.

"Saya belum periksa darah mereka. Kalaupun diperiksa saat ini kemungkinan masih negatif, sehingga setiap tiga bulan harus diperiksa darahnya. Pertumbuhan penyakit ini ada "grace period"-nya. Cepat atau lambat akan ketahuan," kata Bernard.

Pengakuan sang ayah berusia 44 tahun, demikan Bernard, sebelum mengalami penyakit ini berat badannya mencapai 70-an kg, turun menjadi 44 kg. Ia menderita penyakit TBC, infeksi saluran kemih dan jamur di dalam mulut. Penderita tak bisa melakukan aktivitas berat yang membutuhkan banyak energi. "Beruntungnya ia datang periksakan diri, setelah diketahui menderita virus diberikan obat, bisa tertolong. Berat badan naik 1 kg menjadi 45 kg," tandas Bernard.

Sang istri, lanjut Bernard, berat badanya awalnya 40 kg kini menjadi 37 kg. Kondisinya menjadi kurus dan menderita penyakit TBC, telah diberikan obat-obatan. Pasangan ini disarankan rutin mengontrol kesehatannya.

Sementara seorang penderita pria, memiliki seorang istri dan seorang anak, asal Kedang belum sempat diperiksa darahnya, telah menemuinya. Gejalah klinis yang sudah nampak mengarah kepada HIV. Ia pernah melakukan seks bebas dengan PSK selama dua tahun merantau di Malaysia.

Seorang penderita yang berdomisili di Kota Lewoleba ditemukan September 2009, pekan lalu dirujuk berobat ke RSU Kupang. Kondisinya sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan perawatan lebih intensif. Ia mengaku sering berhubungan badan dengan wanita PSK ketika bepergian dari Lewoleba.

Bernard memprediksikan, jumlah penderita HIV/AIDS yang tersembunyi di kampung-kampung di Lembata masih banyak. Fenomena `gunung es' sedang berlangsung di wilayah Kedang, Kecamatan Omesuri dan Buyasuri dan wilayah lainnya di Lembata. Para penderita baru mau berobat setelah kondisi kesehatannya semakin parah.

Ia menyarankan, kelompok masyarakat yang pernah melakukan seks bebas dengan perempuan PSK memeriksakan darahnya untuk mengetahui kemungkinan mengidap HIV. Temuan yang lebih cepat dapat diberikan obat untuk menghindari penurunan daya tahan tubuh lebih parah.

Direktur RSUD Lewoleba, drg. Arnol Marbun mengaku khawatir makin banyaknya penderita HIV/AIDS di Lembata. Jumlah 17 penderita pada bulan September 2009 merupakan tertinggi sejak penderita HIV/AIDS ditemukan di Lembata.

Ia mengatakan, fasilitas laboratorium akan ditingkatkan jumlah dan kualitasnya untuk melayani pemeriksaan darah. Kemungkinan masih ada warga mengidap penyakit ini, namun belum memperlihatkan gelajanya. (ius)

Jumlah Penderita HIV/AIDS

Tahun 2003: 2 kasus
Tahun 2004: 5 kasus
Tahun 2005: 4 kasus
Tahun 2006: 3 kasus
Tahun 2007: 10 kasus
Tahun 2008: 11 kasus
Tahun 2009: 17 kasus (keadaan akhir September)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar